FENOMENA ANAK JALANAN DI KOTA CIREBON
FENOMENA ANAK JALANAN DI KOTA CIREBON
Fenomena
Anak Jalanan sudah tidak asing lagi di indonesia terutama di kota-kota
besar,tidak terkecuali Kota Cirebon. Di Kota Cirebon tepatnya di Kecamatan Harjamukti
tidak sedikit anak jalanan bisa di temukan dengan mudah,nah faktor apa saja
yang mempengaruhi perilaku sosial anak jalanan berikut penjelasannya.
Menurut UNICEF anak jalanan yaitu anak berusia sekitar di bawah 18 tahun dan bertempat tinggal di wilayah kosong yang tidak memadai, serta biasanya tidak ada pengawasan.Biasanya anak jalanan adalah anak yang ditelantarkan orang tua ataupun dari orang tua tunggal. Sedangkan menurut Departemen Sosial RI adalah anak yang menghabiskan proporsi waktunya sebagian besar beraktivitas sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat-tempat umum lainnya.
B .Kategori Anak Jalanan
a. Anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di Jalanan namun masih menjalin hubungan dengan keluarga. Dari kategori ini dibagi menjadi dua kelompok berikut:
a) Anak-anak
yang tinggal bersama orang tuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari.
b) Anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.
b. Anak-anak
yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak
memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya
c. Anak-anak
yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan sehingga
menghabiskan seluruh waktunya di jalanan.
d. Anak-anak
berusia 5-17 tahun yang rentan bekerja di jalanan atau hidup dijalanan dan menghabiskan
sebagaian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari dijalan.
Penyebabnya faktor perekonomin keluarga sehingga mereka mencari uang tambahan
dengan cara berjualan tisu diarea lampu merah,mengamen dijalanan dll.
C. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Sosial Anak Jalanan di Harjamukti Kota Cirebon
a. Tingkat
Mikro (Immediate Causes) dalam hal ini ialah keluarga,yaitu salah pola asuh atau kekerasan di rumah , hingga alasan tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar
anak.
b. Tingkat
Messo (Underlying Causes) yaitu faktor yang ada di masyarakat. Mengenai penolakan
masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon kriminal.
c. Tingkat Makro (Basic Causes) yaitu dari sisi ekonomi adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak terlalu membutuhkan modal keahlian.
D. Penerapan Keagamaan Dinas Sosial Dalam Membina Perilaku Sosial Anak Jalanan di Harjamukti.
Maraknya keberadaan anak jalanan di Kota Cirebon membuat pemerintah Kota Cirebon tidak tinggal diam. Dinas sosial Kota Cirebon meresponnya dengan membangun rumah singgah untuk pembinanan perilaku sosial anak-anak jalanan tersebut. Rumah singgah memberikan pengajaran keagamaan seperti disiplin dalam beribadah hingga prihal tanggung jawab.Selain diajarkan peribadatan dalam rumah singgah diajarkan mengenai teori-teori pendidikan bimbingan dan konseling dalam Islam.
Referensi:
Suryadi, Fuad Anisul, Badar Syaeful,(2020). Fenomena Anak Jalanan Di Kota
Cirebon. Equalita, Vol. 2 Issue 1.
Sofy Malik,(2021).Penerapan
Pendidikan Konseling Islam Dalam Membina Perilaku Sosial Anak Jalanan Di
Harjamukti Kota Cirebon. Thoriqotuna: Jurnal Pendidikan Islam, 4(1),240-250
.
👍👍
BalasHapus